Hai,aku Laila.Aku adalah seorang siswi di sebuah SMA favorit di Semarang. Di sekolah,aku mempunyai 3 sahabat yaitu Tesya,Nisa,Galih. Nisa dan Tesya adalah sahabat karibku sejak SMP sedangkan aku dan Galih bersahabat sejak MOS SMA. Meskipun aku dan Galih bersahabat,tetapi kami tidak pernah berkomunikasi selain di sekolah karena setiap aku meminta nomor handphonenya,Galih selalu mengatakan tidak punya handphone.Padahal Nisa dan Tesya sering telpon-telponan dengan Galih.Hufft,menyebalkan!
***********
Bel istirahat berbunyi.Seperti biasa aku,Nisa dan Tesya duduk-duduk di depan perpustakaan sambil berbincang-bincang.Tesya membuka pembicaraan.
“La,aku punya kabar baik buat kamu.”
“Kabar baik apa,Sya? tanyaku
“Aku dengar-dengar Galih suka sama kamu lho.” jawab Tesya
“Masa sih? Jangan ngomong gitu nanti ada yang salah paham lho.” Kataku
“Enggak kok.Beneran,aku gak bohong.Kemarin aku ketemu sama temennya Galih.Terus dia bilang kalau Galih suka sama kamu sejak hari pertama MOS.Katanya kamu tu baik,pintar,manis dan asyik diajak ngobrol.” Kata Tesya
“Masa sih,aku gak percaya.Jangan-jangan itu Cuma akal-akalanmu aja.” kataku tidak percaya
“Iya Laila.Apa yang diomongin sama Tesya tu bener.” kata Nisa
“Maksud kamu?” tanyaku
“Apa yang diomongin sama Tesya tentang Galih tu bener karena 2 hari yang lalu aku tanya ke Galih siapa yang dia suka ternyata dia jawab kamu yang dia suka.”
Bel tanda masuk berbunyi. Dengan perasaan bimbang aku memasuki ruang kelas.Aku masih bingung dengan pernyataan kedua sahabatku ini.Apa benar Galih menyukaiku?
***********
Sejak saat itu,aku makin bingung dengan persaanku.Aku merasakan sesuatu yang aneh. Aku merasakan sesuatu yang belum pernah aku rasakan sebelumnya. Aku jatuh cinta kepadanya. Ya,aku jatuh cinta pada Galih. Awalnya tidak ada yang tahu tentang perasaanku ini. Tetapi sepandai-pandainya aku menutup mulut,akhirnya terbongkar juga.
“Kamu suka sama Galih ya?” tanya Tesya
“Enggak kok.Kata siapa?” jawabku takut
“Kataku dan Nisa. Kamu akhir-akhir ini aneh banget. Kamu paling semangat kalau ada pertadingan basket padahal dulu tiap kali diajak nonton basket kamu gak pernah mau. Terus tiap Galih lewat,kamu mesti senyum-senyum gak jelas.Udah ngaku aja deh.Kamu suka sama Galih kan?”
“Iya aku suka sama Galih.” Jawabku lirih
“Bener kan dugaanku,Sya?Kamu sih dibilangin gak percaya.oya kamu suka sama dia sejak kapan?” tanya Nisa
“Sejak kelas X. Tapi aku baru yakin sama persaanku sejak kalian bilang kalau dia suka sama aku.”
“Ada yang tahu gak Galih dimana sekarang?” tanya Tesya
“Biasanya kalau jam istirahat dia nongkrong di kantin apa gak di perpus.” jawabku
“Ya udah. Aku pergi dulu ya nanti aku ke sini lagi.” kata Tesya
“Kamu mau kemana? 10 menit lagi bel masuk lho.” kata Nisa
“Ada deh. Gak lama kok. Nanti aku certain deh.”
Tanpa menunggu jawaban dari kami,Tesya langsung pergi begitu saja. 5 menit kemudian Tesya datang dengan senyum-senyum.
“Kamu dari mana aja? Kok senyum-senyum sendiri? Obatnya habis ya?” tanya Nisa
“Enak aja obatnya habis.aku senyum-senyum karena habis ngomong sesuatu sama Galih.” jawab Tesya
“Ngapain?Ngomong apaan?” tanyaku
“Tenang jangan ketakutan gitu dong.Aku cuma ke Galih kalau kamu suka sama dia.Itu aja kok.” jawab Tesya dengan gampangnya
“Lho kok dibilangin sih malu tau.” kataku
“Ya gak apa-apa dong. Sekali-kali perempuan yang ngomong duluan,hehehe.”
“Aaaarrrrghhh,Tesyaaaaaaaaa………..!!!!!!!!!!!” kataku marah
Tesya langsung lari entah kemana. Barusaja aku akan mengejarnya,bel tanda masuk berbunyi. Aku memasuki ruang kelas dengan perasaan jengkel.
***********
Hari berganti bulan,bulan bergati tahun. Kini aku telah melanjutkan kuliah di Universitas Indonesia dengan Nisa dan Tesya sedangkan Galih melanjutkan kuliah di Universitas Diponegoro.Setiap hari,aku berusaha mencari tahu nomor handphonenya Galih dengan mendesak Tesya dan Nisa. Akhirnya aku mendapatkan nomor handphonenya. Tiap ada waktu luang,aku berusaha untuk menghubunginya,tetapi tidak pernah ada jawaban darinya. Meskipun begitu,aku tetap berusaha untuk menghubunginya. Aku berusaha mencari kejelasan tentang hubungan kami. Akhirnya ia menjawabnya lewat SMS.
Ya gitu deh…Kita dari dulu memang sahabatan kan?Aku ngecuekin kamu tu supaya kamu bisa nglupain aku dan cari yang lebih baik dari aku. Karena aku tu ngerasa bahwa kamu tu suka sama aku dan aku gak terima hal itu. Krn kita tu teman…Saranku:kamu nglupain aku dan cari yang lebih baik dari aku. Kalau kamu bersabar dan berusaha Insya Allah suatu saat ada seorang laki-laki yang terbaik (selain aku) untukmu yang menyukaimu.Amin:). Maaf kalau omonganku nyakitin. Itu semua demi kebaikan kita berdua.Salam pertemanan.
Ketika membaca pesan itu,aku menangis. Setelah membaca pesan itu,aku berniat untuk pulang ke Semarang.Keesokan paginya,setelah bersiap-siap aku pulang ke Semarang.
***********
Setelah sampai Semarang,aku langsung pergi ke kampus Galih. Setelah sampai disana aku langsung masuk,mencoba untuk mencari sosok Galih. Tanpa aku sadari ada seorang laki-laki berjalan ke arahku,kami pun bertabrakan dan buku-buku yang ia bawa jatuh di lantai. Aku membantu laki-laki itu untuk mengambil buku-bukunya. Tanpa sengaja aku menggenggam tangan laki-laki itu.Kami saling berpandangan cukup lama hingga suara Galih mengagetkan kami.
“Laila,ngapain kamu kesini?”
“Aku minta maaf ya.” kataku pada laki-laki itu
“Ya. Gak apa-apa. Boleh kenalan gak?Namamu siapa”
“Boleh.Namaku Laila.”
“Ooo…Laila.Ya udah deh aku duluan ya.”
“Ya.”
“Ngapain kamu kesini?” tanya Galih
“Aku mau minta penjelasan kamu. Aku gak ngerti apa yang kamu omongin semalam. Apa yang kamu omongin semalam gak bener kan?”
“Aku gak pernah main-main sama ucapanku. Apa yang kamu baca itulah yang aku katakan.”
Aku tak kuasa mendengar ucapan Galih. Aku hanya bisa menangis dan pergi menjauh dari hadapannya.
***********
Malamnya,ada sebuah pesan masuk dengan nomor yang tidak aku kenal.
Hai,La.Met malam.Aku Dafa,orang yang kamu tabrak tadi siang.Maaf nih sebelumnya,tadi aku sempat denger percakapan kalian berdua dan aku lihat kamu pergi sambil nangis gitu. Kamu lagi punya masalah ya sama Galih?Masalah apa?
Aku pun membalasnya
Hai juga,Fa.Met malam juga.Iya,aku memang lagi ada masalah sama Galih tapi maaf aku gak bisa ngasih tau ke kamu karena itu privasi.
Tidak lama kemudian Dafa menjawab
Gimana kalau besok kita ke pantai. Itung-itung buat ngilangin stress. Kamu kirimin aja alamatmu nanti aku jemput kamu di rumah.
Aku mengirimkan alamatku dan ia berkata akan menjemputku jam 15.00. Aku minta izin dengan mama dan mama mengizinkan. Setelah itu aku tertidur pulas hingga keesokan paginya.
***********
Setelah pulang dari pantai,Dafa mengajakku ke rumahnya dan aku baru menyadari kalau rumah Dafa masih satu gang dengan rumah Galih. Baru sampai depan gang,kami tidak bisa lewat karena jalannya ditutup dan banyak orang yang pergi ke sana. Dafa bertanya pada seorang bapak-bapak yang akan pergi ke sana.
“Maaf Pak?Ada apa ya kok jalannya ditutup terus ada bendera kuning? Siapa yang meninggal?” tanya Dafa pada bapak itu
“Yang meninggal anaknya Pak Edi.Si Galih.”
“Galih yang tinggi,pintar,yang kuliahnya di UNDIP itu?”
“Iya.”
Mendengar pernyataan bapak itu,aku langsung berlari menuju rumahnya. Ternyata disana sudah banyak teman-teman SMA-ku termasuk Tesya dan Nisa. Mereka menatapku dengan wajah sedih. Aku masuk ke rumahnya dengan cara menerobos para pelayat yang hadir. Sampai di dalam,aku melihat jenazah Galih yang telah terbujur kaku di sebuah keranda. Aku tak kuasa melihat Galih,aku pingsan.Setelah itu aku tak tahu apa yang terjadi.
***********
Ketika aku sadar,aku sudah berada dalam sebuah ruangan.Di dinding dan mejanya banyak foto-foto Galih bahkan ada fotoku bersama Galih ketika di Dufan. Aku bangun dan melihat-lihat sekeliling kamar.Di meja,aku menemukan sebuah buku yang dilihat-lihat seperti buku diari. Aku membuka halaman terakhir dalam buku itu.
20 November 2010
Laila datang ke kampus. Aku senang sekali melihatnya setelah 2 tahun tidak bertemu dengannya.Tetapi hatiku hancur melihat ia akrab sekali dengan Dafa. Aku mengira bahwa ia datang ke Semarang karena ia kangen denganku,ternyata aku salah ,Dia datang ke Semarang hanya untuk menanyakan tentang omonganku semalam. Ingin sekali rasanya aku mengatakan bahwa aku tidak sungguh-sungguh mengatakan itu tapi aku gak bisa. Aku gak bisa melihat Laila makin sedih jika dia mengetahui aku mengidap pnyakit kanker otak stadium lanjut. Aku cuma bisa berharap jika aku meninggal dan Laila mengetahui hal ini,aku harap ia bisa bersabar,tabah,dan dapat melanjutkan hidupnya seperti sebelumnya.Semoga ia bahagia tanpa kehadiranku di dalam kehidupannya.
Aku menangis membaca diari itu. Sekarang aku tahu kenapa ia menyuruhku untuk melupakannya. Selamat tinggal Galih,semoga kau tenang di sana. Aku akan mencoba untuk menuruti keinginanmu walaupun untuk saat ini aku belum sanggup untuk melakukannya.
Sabtu, 24 Desember 2011
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
5 komentar:
I wanted to thank you for this great post!! I enjoyed every little bit of it, I have you bookmarked and waiting for all the new stuff you post.
Volkswagen Jetta AC Compressor
sumpah frontal bgt-____-
@sheena:do you can speak indonesia?
@cindy:hehehe
wah status nya jg frontal :D
status apa?
ngomongnya d fb aja y
Posting Komentar